Minggu 21 Juli 2019 sekitar jam 12 siang para peserta dari berbagai provinsi mulai tiba di bandara Adisucipto, Yogyakarta. Dari daerah asal mereka yang sangat jauh, setibanya di Kota Seribu Candi, mereka langsung menuju tenda peserta. Tenda-tenda peserta berdiri di Bumi Perkemahan Prambanan dan di sinilah mereka akan menghabiskan 5 hari 4 malam, mematangkan ide dan berkompetisi. Karena teriknya bumi perkemahan, beberapa peserta mengaku berbaring sejenak di masjid Kompleks Candi Prambanan. Beberapa dari mereka juga berjalan-jalan meninggalkan Bumi Perkemahan, karena acara baru akan dimulai pukul 18.30 WIB. Kalau mau ke mall, memang hanya hari pertama mereka punya kesempatan itu. Selanjutnya peserta tidak diperkenankan meninggalkan acara yang sangat padat dari sekitar pukul 5 pagi hingga larut malam.

Minimnya fasilitas di tenda layaknya berkemah diharapkan membuat para peserta fokus dengan tujuan awal ke bumi perkemahan ini, yaitu untuk berusaha mewujudkan aspirasi kebudayaannya menjadi kenyataan, dengan memenangkan kompetisi. Selain itu, berkemah akan mempererat solidaritas dan keakraban antar peserta sehingga peserta yang datang dari 24 propinsi di Indonesia ini bisa saling mengenal dan menjalin hubungan yang diharapkan akan berlanjut terus setelah berakhirnya Kemah Budaya Kaum Muda.

Tidak hanya peserta, para fasilitator juga bermalam di tenda selama acara berlangsung. Ruang fasilitasi atau mentorship pun berdiri dalam bentuk tenda-tenda. Tenda mentorship masing-masing dilengkapi dengan LCD Screen. Kegiatan perkemahan ini mirip dengan kegiatan menyusun strategi perang. Namun dalam KBKM ini, fasilitator dan peserta menyusun strategi pemajuan kebudayaan melalui produk fisik yang ingin dihasilkan, misalnya board game, aplikasi, misalnya pengumpulan arsip-arsip sastra jawa yang dilengkapi dengan permainan virtual, aktivasi kajian, dan aktivasi kegiatan.  Peserta yang hadir dan mengikuti perkemahan ini sudah lolos audisi dari ratusan kelompok yang mendaftar. Jadi, semangat dan keseriusan mereka tidak diragukan lagi.

Dalam setiap kategori, akan dipilih 3 kelompok yang memenangkan hadiah berupa uang yang harus dialokasikan untuk mewujudkan inisiatif purwarupa dan aktivasi kelompok. Hadiah terbesar adalah lima puluh juta rupiah, untuk juara 1 Purwarupa Aplikasi dan Purwarupa Fisik. Hal ini menunjukkan keseriusan Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan dalam memfasilitasi kaum muda dalam memajukan kebudayaan Indonesia.

Seluruh kelompok akan dibimbing oleh tim fasilitator yang bertugas untuk mendorong diskusi yang produktif dalam kelompok agar kelompok berhasil menyusun proposal kelompok. Selain itu, fasilitator juga wajib memberi inspirasi dan perspektif baru dalam upaya pemecahan tantangan pemajuan kebudayaan melalui berbagai bentuk inisiatif tertentu. Pernah berada dalam rapat suatu kegiatan di mana kalian merasa tidak mendapat apa-apa dari rapat itu? Nah, fungsi fasilitator di sini salah satunya adalah memastikan bahwa setiap pertemuan berarti dan tidak membuang waktu sia-sia. Perspektif yang berbeda juga bisa diberikan oleh fasilitator karena mereka sudah memiliki pengalaman yang lebih dari peserta. Fasilitator sewajarnya lebih tahu “kondisi lapangan” atas inisiatif-inisiatif peserta. Fasilitator juga akan membuat peserta siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menantang dalam mewujudkan inisiatif mereka. Inilah tantangan pemajuan kebudayaan. Selamat berkarya dan berkompetisi, kaum muda Indonesia!

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply