Minggu malam itu, 21 Juli 2019, di Ramayana Garden Resto, Candi Prambanan, teriknya siang hari berubah drastis jadi malam yang gelap, dingin, dan berangin. Namun para peserta begitu antusias mengikuti acara pembukaan Kemah Budaya Kaum Muda di mana mereka duduk di ruang terbuka di bawah langit dan menghadap megahnya Candi Prambanan. Bangunan purba yang dikenal sebagai “seribu candi” itu menjadi latar dari panggung Kemah Budaya Kaum Muda.

Malam yang dingin itu terasa khidmat ketika seluruh hadirin berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Kalau biasanya di sekolah kita hanya diajarkan lagu kebangsaan ini sepanjang 1 Stanza, nah, ternyata lagunya itu masih panjang lho. Dan di stanza-stanza berikutnya, kita bisa mendengar lirik yang penuh dengan ikrar dan doa untuk Indonesia. Marilah kita berjanji Indonesia abadi, salah satunya.

Dua acara yang dirangkai beriringan, yaitu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Doa Bersama sama sekali tidak terasa seperti dekorasi acara. Menyanyikan lagu kebangsaan di ruang terbuka menghadap salah satu kekayaan budaya negeri ini membangkitkan perasaan bangga dan haru, bagaimana kami yang berdiri di sana berasal dari 24 propinsi berdiri berdampingan. Setelah itu,doa yang dipimpin oleh Bapak Najahudin Ramli juga penuh dengan pesan-pesan yang universal dan perlu.

Terangkanlah hati kami agar sirna segala dusta dan benci; jumawa dan iri hati. Jadikanlah kami bangsa yang berterima kasih pada pahlawannya. Jadikanlah kami bangsa yang tidak tersandera dendam masa lalu. Jadikanlah kemajemukan ini yang justru membuat kami bersinergi.

Bahkan narasi doa bersama ini tidak putus dari semangat acara KBKM, yaitu memajukan budaya. Kebudayaan kita tidak bisa maju apabila kita masih memasalahkan kemajemukan dan benci dengan yang berbeda dari kita. Kemudian kita mendengar Laporan Kegiatan dari Direktur Jendral Kebudayaan, Bapak Hilmar Farid. Beliau mengakui bahwa ruang dan kesempatan untuk anak muda menunjukkan aspirasi dan kreativitasnya di tingkat nasional masih sangat terbatas. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan membuat suatu forum yang dikhususkan untuk kaum muda, dan inilah Kemah Budaya Kaum Muda. Acara ini diikuti oleh mahasiswa dan kaum profesional. Dari sekian banyak peserta, ada yang malam ini tidak bisa hadir karena tidak mendapat izin dari kantornya. Maka yang berkumpul di sini malam ini sangat serius, sudah melewati berbagai kendala. Hilman juga menyinggung lirik pada Stanza kedua lagu Indonesia Raya, yang menginginkan “Indonesia bahagia”. Maka dengan memajukan kebudayaan, kita mewujudkan kebahagiaan itu sebagai bangsa Indonesia. Dengan tidur di kemah, diharapkan akan terjalin kebersamaan yang erat di antara peserta dan fasilitator. Hilmar berpesan jangan sampai sebagai peserta, kalian pulang tanpa menjalin pertemanan baru, tanpa kesan apa-apa dari kemah budaya ini.

Mengenai pemilihan tempat, Hilmar mengutip Sri Sultan Hamengkubuwono X yang mengatakan bahwa Candi Prambanan ini adalah Monumen Toleransi. Bagaimana tidak? Kompleks candi ini adalah campuran antara candi Hindu dan Buddha, dan dirawat oleh masyarakat sekitar yang mayoritas muslim. Maka Kemah Budaya sangat diharapkan untuk menjadi monumen toleransi dan pemersatu bangsa.

Menyambung Laporan Kegiatan dari Bapak Hilmar Farid, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga hadir di panggung KBKM dan memberi beberapa pesan. Bangsa yang berbudaya, menurut Sri Sultan, adalah bangsa yang mampu menjaga kepribadian nasional. Hal ini bisa berarti meniadakan rasisme, sukuisme, dan juga tidak memaksakan kebudayaan asing untuk menggeser kebudayaan Indonesia. Kebudayaan harus ditumbuhkan menjadi mainstream pembangunan. Seni dan budaya bukanlah hiburan atau sesuatu yang tidak penting. Seni dan budaya bangsa adalah modal utama kita untuk bertahan dan terus maju sebagai sebuah bangsa. Seperti konsep Sultan Alisjahbana, kebudayaan harus progresif. Kebudayaan harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pesan dan sambutan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X ini kemudian dilanjutkan dengan acara pemukulan kentongan bambu sebagai simbol dimulainya Kemah Budaya Kaum Muda.

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply