Kelas parallel adalah kelas yang mempertemukan kelompok dengan fasilitatornya. Dalam kelas ini kelompok akan membuat presentasi mereka lebih matang agar terdengar lebih kokoh dan para presenter terlihat lebih prima saat mengajukan proposal inisiatifnya pada para juri. Satu fasilitator bisa membantu dua sampai tiga kelompok. Tentu sebuah tantangan tersendiri bagi kakak-kakak fasilitator untuk membagi atensi dan mengatur waktu agar semua kelompok bisa dibimbing dengan efektif. Kelas ini berlangsung dari jam sembilan pagi hingga setengah empat sore. Waktu yang cukup panjang untuk saling bertukar pikiran dan saling menajamkan strategi agar ide nya bisa dianggap layak untuk diwujudkan. Tentunya ide setiap kelompok yang lolos audisi hingga bisa hadir di sini layak untuk diwujudkan, namun dibutuhkan kematangan dalam mempresentasikannya agar juri memilih inisiatif purwarupa tersebut. Setelah kelas paralel pertama yang dilaksanakan hari Senin, 22 Juli 2019, penulis KBKM ngobrol-ngobrol dengan kelompok Laskar Tanantra dari Pasuruan, yang difasilitasi oleh Kak Adrian.

Kak Adrian mempersilahkan Laskar Tanantra untuk mempresentasikan proposal mereka dengan power point. Kemudian Kak Adrian mempersilahkan kelompok lain untuk menanggapi. Dari dinamika itu, peserta merasa tidak hanya belajar mempresentasikan sesuatu, namun juga mengolah masukan dan menjadikannya bahan perbaikan. Laskar Tanantra mengungkapkan mereka tidak tahu apa jadinya jika tidak ada kegiatan fasilitasi ini. Walaupun mereka punya kemampuan menyusun sebuah presentasi, namun setelah kegiatan fasilitasi mereka merasa kerja mereka jadi lebih efektif dan sistematis.

Dalam kelas paralel yang difasilitasi Kak Gesyada, banyak kelompok yang menawarkan inisiatif yang menarik. Kelompok Sanggar Bintang Sekorong ingin memfasilitasi sekolah dasar di wilayah Keluwat untuk  belajar bahasa Keluwat. Ternyata tidak semua daerah punya pelajaran bahasa setempat. Beruntunglah anak-anak yang bisa berbicara bahasa tradisional. Di Keluwat harus ada materi ajar yang bersifat kreatif dan inovatif untuk mengajarkan bahasa Keluwat sehingga bahasa tersebut tidak punah. Selain Sanggar Bintang Sekorong, juga ada kelompok Katakerja dari Sulawesi Selatan. Kelompok ini memiliki keresahan pada pudarnya  ilmu navigasi nelayan secara tradisional. Padahal ilmu intuitif yang turun temurun itu bukan sekedar kekayaan budaya, namun sangat penting, menyangkut keselamatan nyawa para nelayan. Nelayan Sulawesi Selatan kini mengandalkan kompas, padahal kompas bisa rusak dan akan sangat bahaya jika si nelayan tidak sadar bahwa kompas itu rusak dan dia terus mengikuti arahan alat yang rusak itu. Kelompok ini ingin nelayan Sulsel kembali bisa menavigasi dirinya di tengah ganasnya lautan, dengan ilmu yang tidak akan menyesatkan mereka, yaitu ilmu tradisional yang sudah teruji dari zaman ke zaman.

Seluruh presentasi dalam kelas paralel dibatasi dengan timer. Hal ini dilakukan untuk melatih para presenter agar efektif dan sistematis dalam menyampaikan gagasan. Jadi, banyak hal yang dilatih dalam kelas paralel yang terjadi di bilik-bilik dalam tenda KBKM. Fasilitasi juga bisa dilakukan di manapun dalam Kompleks Candi Prambanan. Walau kelas paralel ini tertulis pagi hingga sore, namun dapat dilihat kegiatan fasilitasi kelompok dengan mentor-mentornya terus berlangsung hingga larut malam. Semangat kakak mentor dan para peserta!

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply