Pada sesi Forum Inspirasi, Kemah Budaya Kaum Muda sangat beruntung bisa menghadirkan Irendra Radjawali, Biyanto Rebin, Arief Yudi, dan Ananda Sukarlan. Mereka masing-masing mewakili keempat kategori keluaran KBKM yaitu Purwarupa Fisik, Purwarupa Aplikasi, Aktivasi Kegiatan, dan Aktivasi Kajian. Pukul 4 lebih 30 menit di Lapangan Siwa, Irendra Rajawali hadir. Tidak mudah untuk menarik perhatian para peserta KBKM sore itu karena mereka masih berkutat dengan fasilitasi atau mentorship proposal. Namun prestasi Irendra Rajawali begitu memukau sehingga para peserta terlihat mulai antusias.

Irendra Radjawali, yang lebih akrab dipanggil Radja, adalah pendiri Akademi Drone pertama di dunia. Ya, Radja memproduksi drone sendiri. Ketertarikan Radja pada teknologi terbaru ini lebih dari sekedar alasan estetika. Bahkan tidak ada alasan estetik sama sekali. Radja merasa drone sangat penting karena bisa memetakan wilayah tempat tinggal kita. Sehingga keamanan wilayah bisa kita jaga sepenuhnya. Saat mempersiapkan kelulusan S3 nya, Radja diceburkan dosennya ke Kalimantan Barat untuk memetakan wilayah Kalimantan Barat. Sepenting apa sebuah pemetaan wilayah bagi Radja? Sangat penting. Setiap komponen masyarakat, menurut Radja, harus mengetahui luas wilayahnya, dan berapa luas hutan yang dimili wilayahnya agar bisa sama-sama menjaga tempat tinggalnya dari eksploitasi tidak bertanggungjawab. Drone buatan Radja digunakan sepenuhnya untuk kegiatan sosial dan pengamanan masyarakat. Drone buatan Radja salah satunya digunakan untuk digital mapping tanah adat. Itulah bagaimana nama “Drone Desa” bisa terbentuk.

Sebelum masuk pada penjelasan drone nya, Radja mengingatkan masa-masa revolusi industri pada pada peserta. Revolusi Industri pertama, ungkap Radja adalah ketika ditemukan mesin uang. Mesin ini mengubah pola kerja manusia. Revolusi Industri ke-dua adalah ditemukannya listrik. Listrik mengubah peradaban. Revolusi Industri ke-tiga adalah internet. Internet mengubah peradaban. Dulu cara kita berkomunikasi tidak semudah saat ini. Sekarang apapun yang kita pikirkan bisa kita kirimkan pada orang dalam sekejap mata. Nah, kini kita masuk ke Revolusi Industri 4.0 di mana kita masuk ke ruang data, ungkap Radja. Radja ingin menyadarkan bahwa kini bukan kita yang menguasai internet, namun sebaliknya. Google merekam dan menganalisis tingkah laku kita di Internet. Oleh karena itu, Internet bisa merekomendasikan hal yang berbeda pada setiap penggunanya. Revolusi 4.0 ini menuntut kita untuk menjadi manusia yang sadar dan cerdas, agar sebuah prediksi yang tertulis di buku Homo Deus tidak terjadi, yaitu kekhawatiran bahwa kalau manusia tidak berpikir dengan benar, dunia akan dikuasai robot.

Banyak fakta penting yang diungkapkan oleh para pembicara Forum Inspirasi pada Senin 22 Juli itu. Misalnya, menurut penelitian, manusia Indonesia menghabiskan kurang lebih 8 jam per hari di Internet dan membaca buku kurang lebih 1 halaman selama 15 hari. Hal ini menunjukkan tingkat kecanduan kita pada Internet dan ketiadaan minat pada membaca buku.

Senada dengan Irendra Radjawali, Biyanto Rebin juga sangat menekankan STEAM (Science Technology Arts Mathematics). Sebagai Ketua Wikimedia Indonesia, Biyanto Rebin ingin membebaskan akses untuk pengetahuan. “Bebaskan pengetahuan” adalah slogan Wikimedia. Mengutip dari wikimedia.or.id, Wikimedia Indonesia awalnya dicetuskan untuk didirikan pada pertemuan (kopi darat) sukarelawan penulis Wikipedia Bahasa Indonesia pada 22 November 2006 yang dihadiri oleh tujuh orang pengguna. Organisasi ini berdiri tanpa dukungan dana dari luar dan murni inisiatif para pendirinya. Jabatan Direktur Eksekutif pertama (yang kemudian diubah dengan AD/ART revisi tahun 2011 menjadi Ketua Umum) adalah Ivan Lanin. Pada tahun 2013, posisi Ketua Umum Wikimedia Indonesia dijabat oleh Siska Doviana. Pada tahun 2016, posisi tersebut digantikan oleh Biyanto Rebin. Selanjutnya, kita juga mendengarkan Arief Yudi Rahman yang berbasis di Jatiwangi, Majalengka. Beliau adalah pendiri Jatiwangi Art Factory (JaF). JaF adalah organisasi nirlaba yang terfokus terhadap kajian kehidupan lokal pedesaan melalui kegiatan seni dan budaya seperti: festival, pertunjukan, seni rupa, musik, video, keramik, pameran, residensi seniman, diskusi bulanan, siaran radio dan pendidikan. Mulai dari 2008 JaF bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Jatisura melakukan riset dan penelitian dengan menggunakan media seni kontemporer. Arief sempat menjadi direktur dalam organisasi tersebut untuk periode 2008-2009. Setelah menjadi direktur, Arief kini fokus mengembangkan JaF Gallery dengan berbagai program residensi seniman dengan cara partisipatif, serta mengkaji, dan memberdayakan potensi wilayah di Jatiwangi. Dan yang terakhir, kita kedatangan pianis Internasional, Ananda Sukarlan. Beliau melengkapi dan menutup Forum Inspirasi dengan pesan yang penting: “Jadilah tidak hanya berbeda, namun berkualitas. Karena kualitas itulah yang jadi identitas: identitas diri, daerah, dan negaramu.” Mari kita berani menjadi berbeda dan berkualitas. Salam Kemah Budaya!

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply