Bagi kamu yang suka liburan ke pantai, pasti tau dong tiga gili yang terkenal sebagai destinasi wisata di Lombok? Ya, Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air yang terhampar luas di area Pemenang, Lombok — bagaikan magnet yang tak terelakkan indahnya. Nah, kalau memikirkan area wisata di Lombok, apa yang terbayang? Pasti kurang lebih para wisatawan mancanegara yang memenuhi cafe dan bar. Pernah terpikirkan bagaimana penduduk asli Lombok, terutama anak-anak, merespon geliat wisata di area tempat tinggalnya? Kepedulian akan fenomena inilah yang memicu Muhammad Sibawahi untuk membangun sebuah komunitas yang berlaku layaknya payung untuk anak-anak Pemenang. Walau area wisata memajukan perekonomian masyarakat setempat karena terbukanya lapangan pekerjaan, namun adik-adik di Pemenang banyak yang memutuskan untuk berhenti sekolah di usia remaja untuk terjun ke dunia pariwisata. Dengan tingkat pendidikan dan skill yang sangat minimal, anak-anak ini hanya mendapat posisi “pemula” pada hirarki karir dunia wisata. Mereka tidak menghasilkan banyak uang dari pekerjaan, dan jalan pintas untuk menghasilkan banyak uang adalah dengan masuk ke lingkaran obat-obatan terlarang.

Kakak-kakak di Pemenang yang cukup beruntung karena diselamatkan oleh banyak faktor, salah satunya oleh minat mereka berkesenian, merasa perlu untuk menggandeng adik-adik setempat, mengarahkan energi dan perhatian mereka pada dunia kesenian. Beberapa kegiatan di Komunitas Pasir Putih diantaranya adalah Senam Rudat, Teater,  Membuat Terompet, dan beberapa bulan terakhir ini mereka menggarap event “Bangsal Menggawe 2019: Museum Dongeng” yang merupakan respon atas situasi pasca bencana alam yang melanda Pulau Lombok pada 2018. Acara ini meliputi “Bangsal Cup”, turnamen bola yang sudah berjalan sejak 2016, Teater Isin Angsat, dan kegiatan-kegiatan Komunitas Pasir Putih lainnya.

Sebelum Komunitas Pasir Putih berdiri, Muhammad mengikuti lokakarya Literasi Media yang membuatnya tergerak untuk melihat persoalan sosial dari tulisan dan fotografi. Dalam sesi wawancara dengan penulis, Muhammad mengungkapkan beliau juga memperhatikan konten media sosial anak-anak setempat yang menunjukkan respon mereka terhadap fenomena pariwisata. Hal-hal yang mereka pamerkan di media sosial menurut Muhammad sebenarnya bukan sesuatu yang membanggakan. Komunitas Pasir Putih ingin memberikan mereka sesuatu yang bisa mereka banggakan kelak, karya dan kematangan berpikir melalui proses berkarya. Tidak hanya kesenian, komunitas ini mengajarkan anak-anak muda untuk melakukan riset, kerja ilmiah, dan pengarsipan. Karena kreativitas belum lengkap tanpa kemampuan mengarsipkan. Apakah ada anggota tetap komunitas? Seperti komunitas non formal pada umumnya, selalu ada pasang surut keaktifan mereka yang terlibat dan Muhammad siap dengan hal itu. Komunitas Pasir Putih menjalin interaksi dengan para pemuda lintas agama di Lombok untuk bersama-sama melindungi dan membangun kaum muda Lombok.

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply