1. Purwarupa Aplikasi,

Apabila yang dituju adalah proposal purwarupa aplikasi, maka purwarupa aplikasi diharapkan:

  • Berbasis platform yang memungkinkan interaksi antar-pengguna (gotong-royong digital)
  • Mendorong user-generated content (sebagai basis mekanisme crowdsourcing)
  • Memaksimalkan fungsi geotagging (sebagai basis data geo-spasial)
  • Aplikasi Match-Making Sarpras Budaya

    1. Konsepnya: digitally reprogrammable cultural space. Menciptakan ruang bagi ekspresi dan kegiatan budaya dengan memanfaatkan sarpras yang tidak terpakai, seperti lahan/gedung pemerintah dan swasta yang untuk waktu tertentu tidak terpakai.
    2. Mekanismenya: semacam Airbnb untuk kegiatan budaya. Aplikasi mendaftar sarpras yang tidak terpakai dengan tanggal penawaran peminjaman, lembar peminjaman dan narahubung. Setelah peminjaman berhasil, aplikasi mendaftar peminjaman tersebut dalam kalender kegiatan budaya.
    3. Outputnya: aplikasi yang mendorong (1) match-making sarpras budaya, (2) cultural place-making, dan (3) menciptakan kalender kegiatan budaya.
  • Aplikasi Lawan Persekusi

  1. Konsepnya: platform pelaporan terhadap ancaman dan tindakan persekusi atas kegiatan budaya. Menggalang solidaritas korban persekusi antar daerah dan dari berbagai latar belakang (masyarakat seni, penghayat kebatinan, dst) yang menjadi early warning system bagi pengambil kebijakan dan penegak hukum.
  2. Mekanismenya: Pengguna aplikasi melaporkan kasus persekusi atas kegiatan budaya dalam format yang dapat diterima penegak hukum, dilengkapi dengan fitur geotagging dan live feed. Aplikasi tersambung dengan Dinas Kebudayaan kabupaten/kota dan Polres setempat. Dilengkapi juga dengan fitur rating terhadap Dinas dan Polres berbasis mutu penanganan tindak persekusi.
  3. Outputnya: platform aplikasi yang jadi (1) wahana pelaporan persekusi dan (2) benchmarking kinerja Dinas Kebudayaan dan Polres dalam menangani persekusi.

2. Purwarupa Fisik

Apabila yang dituju adalah proposal purwarupa fisik, maka purwarupa fisik diharapkan:

  • Bersifat ramah pengguna (user-friendly) dan dapat dimanfaatkan secara massal
  • Meningkatkan keterlibatan publik dalam pemajuan kebudayaan
  • Meningkatkan relevansi/manfaat objek pemajuan kebudayaan bagi kehidupan sehari-hari

Untuk membuat konkret gambaran tersebut, berikut adalah contoh purwarupa fisik yang dapat dijadikan rujukan awal: purwarupa mesin pemindai manuskrip. Konsepnya: alat yang dapat memindai (scanner) manuskrip kuno Nusantara dan mengalihkannya ke dalam format Rich Text Format atau PDF. Mekanismenya: Alat pemindai berisi kamus bahasa-bahasa kuno Nusantara dan tipografi aksara kuno Nusantara yang dapat mengenali huruf yang tertera dalam manuskrip. Outputnya: mesin pemindai manuskrip kuno Nusantara

3. Aktivasi Kegiatan

Apabila yang dituju adalah proposal aktivasi kegiatan, maka aktivasi kegiatan diharapkan:

  1. Mendorong ketersambungan dengan pengambilan kebijakan bidang kebudayaan di pusat atau daerah
  2. Meningkatkan keterlibatan publik dalam pemajuan kebudayaan
  3. Meningkatkan relevansi/manfaat objek pemajuan kebudayaan bagi kehidupan sehari-hari

Untuk membuat konkrit gambaran tersebut, berikut adalah contoh aktivasi kegiatan yang dapat dijadikan rujukan awal: aktivasi kegiatan festival bunyi tradisi dan suara elektronika. Konsepnya: mengolah repertoir bebunyian tradisi ke dalam wahana suara elektronik. Mekanismenya: menjalankan rekayasa suara (sound engineering) untuk memperoleh suara kekinian dari bebunyian tradisional. Outputnya: festival bunyi tradisi dan suara elektronika.

4. Aktivasi Kajian

Apabila yang dituju adalah proposal aktivasi kajian, maka aktivasi kajian diharapkan:

  • Mendorong ketersambungan dengan pengambilan kebijakan bidang kebudayaan di pusat atau daerah
  • Meningkatkan keterlibatan publik dalam pemajuan kebudayaan
  • Meningkatkan relevansi/manfaat objek pemajuan kebudayaan bagi kehidupan sehari-hari

Untuk membuat konkrit gambaran tersebut, berikut adalah dua contoh aktivasi kajian yang dapat dijadikan rujukan awal: aktivasi kajian pengetahuan tradisional yang tersisa sebagai kenangan dari generasi tua. Konsepnya: rekonstruksi sejarah lisan atas peninggalan objek pemajuan kebudayaan yang hanya tinggal kenangan di kalangan para pinisepuh. Mekanismenya: pendokumentasian wawasan kuno lewat wawancara dengan para sesepuh dan transkripsi serta pengolahannya ke dalam berbagai wahana kekinian. Outputnya: basis data pengetahuan tradisional.

Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia
Komplek Kemdikbud
Gedung E Lt.4
Jln. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta 10270
Email: kebudayaan@kemdikbud.go.id
Telepon: (021) 5731063, (021) 5725035
Fax: (021) 5731063, (021) 5725578