Tidak ada yang lebih keren dari anak muda yang berani menjalani passion nya, sekalipun gairah itu sangat jarang digemari oleh anak muda lainnya. “Anti mainstream” adalah istilah yang sangat pas untuk menggambarkan Sinta Ridwan. Bagaimana tidak, perempuan kelahiran tahun 1985 ini sangat progresif dalam mempelajari aksara kuna Indonesia. Setiap daerah memiliki aksara yang berbeda dan sebagai mahasiswa magister Filologi pada masa itu, Sinta harus menguasai aksara kuna dari berbagai daerah.  Ia diancam drop out karena para pengajar meragukan latar belakang akademik Sinta yang bukan dari filologi. Namun Sinta membuktikan bahwa dirinya pantas dan mampu untuk ikut menjelajahi ilmu yang berkaitan dengan manuskrip, sastra dan sejarah ini. Bahkan Sinta membuka kelas gratis untuk mempelajari aksara kuna di Bandung. Berawal dari kunjungannya ke museum di Kalimantan Timur dan Selatan, Sinta diundang untuk memperkenalkan apa itu filologi sepulangnya, di sebuah ruang publik di Bandung. Dari acara sharing itu ia menemukan ternyata tidak sedikit lho orang yang ingin belajar aksara kuna. Tapi jika untuk menjadi filolog dengan mengambil pendidikan formal filologi, minat anak muda sangat rendah. Hal ini bisa dilihat dari jumlah mahasiswa jurusan filologi; setidaknya pada kisaran tahun 2010-2013 ketika Sinta menjalani program masternya. Menariknya, murid pertama Sinta adalah sekelompok grup musik metal underground. Kok bisa? Saat berbincang dengan penulis, Sinta menceritakan pada 2009 itu Bandung mengalami tahap “sadar identitas diri” di mana kaum muda ingin kembali mengenal akar tradisi. Nama-nama band memakai bahasa sunda kuna, misalnya, dan kembali dimainkannya alat musik tradisi, yaitu Karinding.

Selain mengarsipkan dan mengajar aksara kuna, Sinta juga menulis puisi, kumpulan cerpen, dan novel. Buku berisi kumpulan cerpen yang pernah dipublikasikan berjudul “Perempuan Berkepang Kenangan”, antologi puisi dalam judul “Secangkir Bintang VI.7”, dan novel yang telah difilmkan berjudul “Memoar Berteman dengan Kematian Catatan Gadis Lupus”. Filologi sangat mempengaruhi karya sastranya. Karena baginya filologi bukan sekedar berdiam di satu ruangan lalu membaca dan menerjemahkan. Namun naskah-naskah kuna ini membawa Sinta pada perjalanan, mengenalkannya dengan banyak karakter, dan semua ini menjadi inspirasi deras bagi cerita dan puisi Sinta. Ketika ditanya siapa penulis favoritnya, Sinta mengaku menikmati karya Friedrich Nietzche (1844-1900) dan John Ronald Reuel Tolkien (1892-1973). Keduanya berlatarbelakang filologi. Selain itu, Sinta juga menikmati tulisan-tulisan mitologi.

Saat ini Sinta sedang menggarap museum aksara virtual. Tentu agar kita yang awam bisa belajar dan mengapresiasi sejarah dan tingkat kesusastraan yang tinggi di masa lampau. Hasil penjualan buku dialokasikan untuk mendanai pengerjaan museum aksara ini. Benar-benar passionate dan berdedikasi ya! Karena kerja kerasnya yang nggak main-main ini, Sinta sudah mengantongi berbagai penghargaan. Diantaranya adalah Kick Andy Heroes Awards 2012 pada kategori Young Hero, Netty Award Inspiring Woman on Education 2012, diundang sebagai salah satu pembicara di Orasi Kebudayaan Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018, termasuk dalam 40 seniman dan budayawan  yang ikut rapat  dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Desember 2018, dan masih banyak lagi.

Yuk kita berkarya dan memperjuangkan karya kita demi sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, seperti Sinta Ridwan. Semua yang ia kerjakan ini semata-mata demi menjaga, melestarikan, dan memberdayakan lagi apa yang sudah ditinggalkan namun sesungguhnya masih penting dan kaya makna.

Sukses selalu, Sinta Ridwan!

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply