Setelah peserta dibakar sumbu semangatnya melalui Forum Inspirasi di mana pendiri Akademi Drone dan Wikimedia mengajak para peserta untuk mendiskusikan tantangan pemajuan kebudayaan, panggung di Lapangan Siwa dimatikan lampunya. Setelah beberapa saat, terdengarlah sinopsis dari karya yang akan kami saksikan. Melati Suryodarmo menghadirkan karya Sakshat, dimana Melati memaknai lagi epos Ramayana. Ada anggapan bahwa Ramayana adalah filsafat kehidupan yang mendalam yang dianalogikan melalui kisah cinta Rama, Sinta, dan Rahwana. Untuk sedikit menyegarkan ingatan kita, problem akhir pada kisah Ramayana adalah Rama tidak mencintai Sinta sekembalinya Sinta dari culikan Rahwana karena Rama meragukan kesucian Sinta. Sinta kemudian menyeburkan dirinya dalam kobaran api di mana api adalah lambang kesucian. Kesucian Sinta terbukti. Sinta tidak terbakar walau menjatuhkan diri dalam kobaran api. Rama pun menerima Sinta kembali. Teks ini bisa dibaca dan dikaji ulang secara kritis khususnya dari perspektif perempuan. Pertanyaan yang Melati ajukan, dalam konteks jaman sekarang, pengorbanan Sinta itu termasuk kesetiaan atau ketidakberdayaan?

Sebagai seniman seni rupa pertunjukan, karya Melati selalu simbolis, konseptual, dan tidak untuk hiburan. Walau demikian, presentasi Sakshat malam itu jauh dari kesan berat dan membosankan. Koreografi Melati dalam Sakshat sangat dinamis. Karya ini juga menghadirkan ranjang sebagai simbol yang menstimulasi berbagai interpretasi.

Jika teman-teman belum tahu siapa Melati Suryodarmo, beliau merupakan seorang seniman senirupa pertunjukan asal Surakarta, Indonesia. Melati terinspirasi pada dunia sebagai jagad dalam dirinya, tubuh menjadi rumah yang berfungsi sebagai wadah ingatan, sistem dalam tubuh psikologis yang berubah sepanjang waktu memperkaya produksi gagasan sehingga berkembang pada struktur tindak dan konsep yang terus berkelanjutan.

Melati sarjana jurusan ilmu sosial dan politik, Universitas Padjajaran, Bandung. Kemudian menyelesaikan master berkonsentrasi pada seni pertunjukan dan Raum Konzept di Hochschule für Bildende Künste Braunschweig, Jerman.

Sebelum dibuka forum tanya jawab dengan Melati, beliau sempat berpesan pada Moderator agar filosofi yang berlapis pada karyanya tidak usah dibacakan karena akan membingungkan para peserta KBKM. Walau filosofi Sakshat itu akhirnya tidak dibacakan, namun Melati sangat terkesan dengan tanggapan-tanggapan kaum muda Kemah Budaya.

Seorang peserta, Muhammad Fuad, misalnya, bertanya apakah ada tempat khusus untuk Melati menuangkan ide-idenya? Rumah adalah ruang kreatif, jawab Melati. Seni bagi Melati bukan hanya karya-karya yang bisa dipertontonkan. Seni adalah media kontemplasi. Seperti kontemplasi Melati ketika membaca epos Ramayana. Sakshat hanya salah satu kontemplasi dari berbagai kontemplasi dalam pembacaan pada epos yang sama. Ketika ditanya apakah Melati takut karyanya sedikit peminat karena bukan merupakan seni populer, jawabannya adalah beliau percaya segala hal ada tempatnya. Seni itu kaya sekali dan masing-masing memiliki ekosistemnya. Misalnya presentasi karya Sakshat di KBKM malam ini, itu adalah sebuah keberanian, untuk mengenalkan ekosistem Melati Suryodarmo pada kaum muda milenial. Buktinya, teman-teman KBKM lebij dari sekedar bisa mengapresiasi karya ini. Selepas diskusi, beberapa peserta masih mengejar Melati untuk berdiskusi lebih lanjut. Setelah penampilan tari dari Melati, kita masih distimulasi dengan teater postmodern dari Roka Teater. Tidak seperti teater populer, Roka lebih mengeksplorasi tubuh, gestur, dan musik sebagai suasana. Namun bisa dimaklumi bahwa semakin larut, teman-teman KBKM lebih memilih untuk fokus mempersiapkan penjurian besok. Dan hari itu diakhiri dengan pertunjukan musik dari Rslide. Band ini semuanya beranggotakan alumnus SMK Negeri 8 Surakarta. Mereka memadukan musik ska dengan alunan langgam Jawa.

Semoga pertunjukan yang ditampilkan pada Senin malam tidak hanya menjadi tontonan namun menghidupkan geliat-geliat baru kaum muda Kemah Budaya dalam berkreasi. Salam Kemah Budaya Kaum Muda!

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply