Inilah acara yang paling diantisipasi oleh kita semua yang terlibat di Kemah Budaya Kaum Muda, Pidato Kebudayaan Budiman Sudjatmiko. Setelah sesi berbagi ide dan pengalaman yang juga inspiratif dalam sesi Forum Diskusi Terbuka, Budiman hadir di panggung KBKM di Lapangan Siwa. Entah apa yang membuat kehadiran Budiman begitu mengubah atmosfir malam itu. Terlihat para peserta dan panitia merapat mendekati panggung, tidak sabar untuk mendengar apa yang akan disampaikan Inovator 4.0 tersebut.

Jika teman-teman belum mengenal siapa Budiman Sujatmiko, beliau adalah penggagas Inovator 4.0, sebuah perkumpulan pegiat inovasi digital. Budiman mengatakan perkumpulan itu dibentuk untuk mewujudkan kehidupan masyarakat cerdas, hidup layak, serta mampu menjawab tantangan revolusi industri (Sumber: liputan6.com)

Budiman mengungkapkan pentingnya ilmu pengetahuan dan imajinasi. Dalam pembukaannya, Budiman memutuskan untuk turun dari panggung agar lebih membaur dengan para peserta. “Saya diberitahu oleh panitia bahwa yang berkumpul di sini adalah anak muda yang persis hidupnya mengembangkan ilmu pengetahuan dan imajinasi”, sapa Budiman yang disambut riuh oleh kami semua. Menjadi imajinatif berarti kembali menjadi kita di masa kecil. Imajinatif sifatnya alamiah bagi pikiran kita. Seperti anak kecil yang membayangkan jadi tokoh di film yang disukainya, misalnya. Sayangnya, sekolah formal yang kita ikuti justru cenderung membunuh imajinasi. Banyak yang mulai membunuh imajinasinya di bangku SMP, SMA; semakin tinggi pendidikan orang cenderung semakin realistis dan takut pada imajinasi, ungkap Budiman. Salah satu alasannya karena tidak sesuai dengan kurikulum. Namun Budiman memilih untuk mempertahankan apa yang berharga dari beliau sebagai manusia, yaitu imajinasi. Imajinasi yang membedakan manusia dengan hewan, bahkan hewan cerdas seperti simpanse sekalipun. Karena imajinasi pula, Candi Prambanan ini bisa ada. Di Candi ini ada Candi Wisnu dan Candi Siwa, sosok-sosok yang mungkin tidak pernah mereka lihat dengan mata telanjang. Karena peran imajinasi, Indonesia bisa memiliki kebudayaan yang luhur dan dikagumi oleh masyarakat dunia.

Budiman mengajukan sebuah pertanyaan, apa itu kebudayaan? Kebudayaan adalah kumpulan imajinasi manusia. Sebagai contoh, Borobudur adalah satu-satunya Candi Buddha di dunia yang memiliki bentuk stupa yang berbeda. Padahal kuil Buddha zen di Kamboja, Nepal, dan Cina semua memiliki kesamaan namun tidak ada yang seperti Borobudur. Hal ini membuktikan bahwa orang kita saat itu memiliki imajinasi yang berbeda. Suatu bangsa yang tidak berimajinasi tidak bisa berbudaya. Secara pribadi, bagi Budiman, kemah budaya ini adalah kemah imajinasinya anak muda.

Setelah menekankan tentang betapa vitalnya imajinasi, Budiman mengarahkan kita pada desakan untuk berinovasi. Kita bisa masuk pada Revolusi Industri 4.0 juga karena imajinasi. Saat ini, bahan bakar dari industri adalah data, bukan lagi sumber-sumber yang tangible seperti minyak, misalnya. Kini permasalahannya adalah bagaimana suatu teknologi bisa membuat dampak sosial? Bangunlah jejaring sosial. Sebagai creator dan inovator teknologi, Budiman mendorong para peserta untuk membangun jejaring para organisator komunitas. Sebuah teknologi yang punya jejaring sosial tidak bisa dihentikan. Contohnya Facebook. Facebook adalah monumen penggabungan teknologi dengan jejaring sosial. Maka dalam kesempatan malam itu Budiman mengajak para peserta untuk membangun jejaring sosial antar para inovator agar usaha memajukan dan merawat kebudayaan Indonesia semakin kuat dan orang tidak takut untuk mewujudkan imajinasinya. Salam Kemah Budaya!

kbkm

Author kbkm

More posts by kbkm

Leave a Reply